Friday, December 19, 2025

11:55 AM

 Copenhagen, Denmark
Tanggal : 18-12-2025


SURAT TERBUKA

KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAPAK PRABOWO SUBIANTO DAN JAJARAN PEMERINTAH PUSAT


Kami, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), menyampaikan surat terbuka ini sebagai peringatan serius dan ekspresi keprihatinan mendalam atas sikap dan kebijakan pemerintah pusat dalam menangani musibah banjir besar yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan terutama Aceh.

Bencana ini bukan peristiwa biasa. Skala kehancurannya, jumlah korban jiwa, serta dampak sosial–ekonomi yang ditimbulkan telah melampaui batas kewajaran sebagai sebuah musibah regional. Dalam penilaian kami, dampaknya bahkan lebih buruk dibandingkan Tsunami Aceh tahun 2004, terutama musibah ekologi ini terjadi dalam situasi damai yang seharusnya menjamin kehadiran negara secara penuh.

Namun hingga surat ini disampaikan kepada publik, pemerintah pusat belum juga menetapkan bencana ini sebagai Bencana Nasional. Keterlambatan dan kelalaian tersebut telah berdampak langsung pada tersendatnya bantuan kemanusiaan, termasuk hambatan masuknya bantuan dari luar negeri ke Aceh. Situasi ini menciptakan kesan kuat adanya ketidakadilan dan diskriminasi struktural terhadap Aceh.

Kami menegaskan secara terbuka:

Ketika negara gagal hadir di saat rakyat berada dalam kondisi paling rentan, maka legitimasi moral negara sedang dipertaruhkan.

Perlu Bapak Presiden pahami dan ketahui dengan jujur dan bertanggung jawab, Sikap bapak seperti ini  meningkatnya kembali kekecewaan rakyat Aceh terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah propaganda, melainkan realitas sosial yang hidup di tengah masyarakat. Realitas ini lahir dari pengalaman langsung melihat penderitaan mereka diabaikan.

Sebagaimana Bapak ketahui, konflik Aceh diakhiri melalui MoU Helsinki. Kami  sebagai pimpinan tertinggi GAM, meskipun menyadari bahwa banyak butir perjanjian belum dijalankan secara konsisten, tetap menjaga komitmen terhadap perdamaian dan menjadikan MoU Helsinki sebagai fondasi penyelesaian konflik bersenjata  Aceh.

Namun kebijakan Bapak selaku President  saat ini, khususnya dalam penanganan bencana Aceh, menunjukkan arah yang keliru, tidak sensitif, dan berbahaya bagi keberlangsungan perdamaian di Aceh. Sikap ini sangat kontras dengan pendekatan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pada masanya menunjukkan tanggung jawab moral dan kenegarawanan terhadap Aceh.

Oleh karena itu, kami menuntut secara terbuka dan tegas agar Pemerintah Republik Indonesia segera:

Menetapkan banjir besar di Aceh dan wilayah Sumatra lainnya  sebagai Bencana Nasional;

Membuka akses penuh, cepat, dan tanpa hambatan terhadap seluruh bantuan kemanusiaan, baik domestik maupun internasional;

Mengambil langkah konkret, transparan, dan bermartabat untuk menjaga perdamaian Aceh, bukan dengan pendekatan keamanan semata, tetapi dengan keadilan dan kepedulian nyata.

Kami menyampaikan peringatan ini dengan penuh tanggung jawab:

Tsunami 2004 menjadi pemicu perdamaian di Aceh, namun dengan pengabaian negara terhadap banjir besar hari ini, bisa berpotensi menjadi pemicu kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan runtuhnya perdamaian.

Apabila pemerintah pusat terus mengabaikan jeritan kemanusiaan rakyat Aceh, maka konsekuensi sosial dan politiknya akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara, bukan rakyat yang telah terlalu lama bersabar.

Satu hal lagi yang perlu Bapak pahami secara jujur dan terbuka:

Rakyat Aceh tidak dibesarkan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa keadilan harus diperjuangkan. Dalam iman kami, keberanian moral untuk berdiri di pihak kebenaran dan menolak kezaliman adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Kegelisahan yang kami sampaikan hari ini lahir dari rasa keprihatinan atas perlakuan yang kami rasakan tidak adil dari negara terhadap Aceh.

Surat terbuka ini kami sampaikan kepada publik sebagai bentuk kontrol moral, peringatan sejarah, dan panggilan terakhir bagi negara untuk bertindak adil.

Hormat kami,

Gerakan Aceh Merdeka (GAM)


Johan Makmor.

Chairman


0 komentar:

Post a Comment